Tidak Apa-Apa Jika Jalanku Sedikit Lebih Panjang

Usiaku 24 tahun ini, seorang kakak yang bangga.

Di usia ini, banyak teman-temanku mulai mengejar mimpi masing-masing. Ada yang merencanakan S2, ada yang pindah kerja ke perusahaan impian, ada yang mulai membangun bisnis, bahkan ada yang sedang melanjutkan studi ke luar negeri.

Aku pun punya mimpi.

Suatu hari nanti, aku ingin melanjutkan pendidikan. Aku ingin mengambil sekolah magister. Aku ingin mengajar. Aku ingin menjadi dosen.

Banyak yang bilang, jika kamu punya mimpi, jangan kamu bicarakan sebelum mimpi itu terwujud. Tapi untuk mimpi yang besar ini, aku akan dengan bangga mengatakanya ke semua orang, cita-citaku adalah menjadi seorang Dosen.

Namun untuk saat ini, kayaknya hidup memberiku prioritas yang berbeda.

Orang tuaku tidak lagi muda. Kakakku telah memiliki kehidupannya sendiri. Dan aku masih memiliki dua adik yang sedang bertumbuh, mencari arah, dan mempersiapkan masa depan mereka.

Aku ingat, dulu aku menjalani semuanya dengan meraba-raba sendiri.

Aku tidak selalu tahu jurusan mana yang tepat, aku tidak selalu tahu bagaimana mencari beasiswa, aku tidak selalu tahu keterampilan apa yang dibutuhkan industri. Banyak keputusan kuambil melalui percobaan, kesalahan, dan pembelajaran yang terkadang tidak mudah.

Sebab itulah, ketika melihat adik-adikku berdiri di persimpangan yang sama, aku merasa ingin menemani mereka.

Aku hadir tidak untuk memilihkan jalan hidup mereka, juga tidak untuk mengendalikan masa depan mereka. Aku hanya ingin membantu mereka melihat pilihan-pilihan yang ada, memaksimalkan kesempatan yang ada.

Tentang adik-adikku

Aku masih melihat kedua adikku seperti dua anak kecil di foto ini, dua bayi yang aku sayangi dan ajak main puzzle setiap hari. Aku harap mereka juga melihatku sebagai kakak penyayang dan bawel mereka, hahaha.

Adik-adikku yang aku sayang, kiri Fadhiil, kanan Aziiz

Adikku yang pertama sudah berhasil masuk kuliah melalui jalur SNBP. Syukurlah, ia tidak perlu membayar uang pangkal. Aku tidak menanggung seluruh biaya pendidikannya karena orang tuaku masih mampu, tetapi aku berusaha membantu dengan cara yang lain: mengajarinya mencari peluang, menjaga IPK, memahami dunia kerja, dan memikirkan keterampilan yang akan membuatnya relevan setelah lulus sebagai seorang sarjana perkapalan.

Adikku yang kedua sedang berada dalam fase menentukan arah. Aku mencoba mengenalkannya pada berbagai pilihan karier dan dunia perkuliahan yang dulu tidak aku pahami ketika seusianya. Aku mendorongnya mengikuti lomba-lomba, bukan semata karena ingin ia menang, melainkan karena aku ingin ia belajar bertanggung jawab terhadap sesuatu yang ia pilih sendiri.


Aku ingin mereka terbiasa berusaha.

Aku ingin mereka belajar mengambil keputusan.

Aku ingin mereka belajar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.

dan yang paling penting, aku ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. 

Karena suatu hari nanti, aku sudah tidak bisa lagi mendekap mereka seperti sekarang.


Kadang-kadang aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku sedang menunda mimpiku? 

Mungkin iya.

Tetapi aku tidak merasa sedang meninggalkannya, ada perbedaan besar antara menyerah dan menunda.

Aku tidak pernah berhenti ingin melanjutkan studi, bermimpi menjadi dosen. Namun aku cuma sedang memilih waktu yang berbeda untuk mewujudkannya. Aku percaya, pendidikan tidak mengenal batas usia. Ketika waktunya tiba, aku akan berkuliah lagi, dan ketika kesempatan itu datang, aku akan mengejarnya.

Untuk sekarang, aku ingin fokus bekerja, menabung, membangun fondasi yang lebih kuat, dan membantu adik-adikku sampai mereka mampu berdiri di atas kaki mereka sendiri.

Sebagian orang mungkin melihat ini sebagai pengorbanan.

Tapi aku tidak sama sekali. Aku melihatnya sebagai bentuk syukur, aku beruntung masih bisa membantu keluargaku, aku beruntung memiliki ilmu dan pengalaman yang bisa kubagikan kepada adik-adikku, aku beruntung diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari perjalanan mereka. Dan mungkin, beberapa tahun dari sekarang, ketika mereka telah menemukan jalan mereka masing-masing, aku bisa melangkah mengejar mimpiku dengan hati yang lebih tenang.

Jika hari itu tiba, aku ingin melihat ke belakang dan berkata:

"Tidak kehilangan mimpi kan? Kamu cuman ambil jalan yang lebih panjang dan lebih lama dikit untuk sampai di sini."

itu tidak apa-apa.

Karena melihat adik-adikku tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, melihat orang tuaku tersenyum bangga, mungkin akan menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam hidupku juga.


-n

Comments

  1. semangat bby πŸ₯°πŸ«ΆπŸ«ΆπŸ«Ά

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tentang Buku "Entrok" dan Marni: Perempuan, Mimpi Kecil, dan Luka Besar

English Debate Cuman Lomba Bacot??

Very long poem