Posts

NEWEST

Tidak Apa-Apa Jika Jalanku Sedikit Lebih Panjang

Image
Usiaku 24 tahun ini, seorang kakak yang bangga. Di usia ini, banyak teman-temanku mulai mengejar mimpi masing-masing. Ada yang merencanakan S2, ada yang pindah kerja ke perusahaan impian, ada yang mulai membangun bisnis, bahkan ada yang sedang melanjutkan studi ke luar negeri. Aku pun punya mimpi. Suatu hari nanti, aku ingin melanjutkan pendidikan. Aku ingin mengambil sekolah magister. Aku ingin mengajar. Aku ingin menjadi dosen. Banyak yang bilang, jika kamu punya mimpi, jangan kamu bicarakan sebelum mimpi itu terwujud. Tapi untuk mimpi yang besar ini, aku akan dengan bangga mengatakanya ke semua orang, cita-citaku adalah menjadi seorang Dosen. Namun untuk saat ini, kayaknya hidup memberiku prioritas yang berbeda. Orang tuaku tidak lagi muda. Kakakku telah memiliki kehidupannya sendiri. Dan aku masih memiliki dua adik yang sedang bertumbuh, mencari arah, dan mempersiapkan masa depan mereka. Aku ingat, dulu aku menjalani semuanya dengan meraba-raba sendiri. Aku tidak selalu tahu jurusa...

The only constant in life is change.

— Aku tumbuh dengan mempercayai bahwa jika aku ingin sukses, hidup harus menderita terlebih dahulu. Bahwa untuk sampai ke puncak, hidup harus bersakit-sakit dahulu. Didikan waktu dan keadaan membuatku terbiasa dengan gemuruh, sembunyi, dan tidak pernah merasa cukup, sebuah ritme hidup yang menuntutku untuk selalu ambisius dan tak boleh ada celah untuk salah. Seiring waktu aku sadar, keyakinan itu tidak sepenuhnya salah, namun tidak juga sepenuhnya benar. Kerasnya tempaan, kasarnya didikan, dan gemuruh ekspektasi memang telah menjadikanku setegar dan semandiri ini. Tempaan ini yang membawaku menembus batas, memenangkan persaingan, dan berdiri di posisi yang kini aku syukuri. Aku—keras kepala, tidak mau salah, dan pragmatis. Aku melihat dunia dengan keyakinan yang kubawa sejak kecil, bahwa hidup itu menderita, hidup itu tidak boleh bersantai, hidup itu terburu-buru, dan aku, harus bisa menjalani "hidup" sesiap-siapnya. Ini menciptakan paradoks aneh dalam hidupku, bahwa ketika m...

Hidup, Mati, dan Di Antaranya

Runtutan kepergian orang-orang terdekat akhir-akhir ini membuatku sadar bahwa satu-satunya kepastian di dunia ini adalah kita semua akan mati. Kita akan terurai, lalu perlahan dilupakan. — sebuah renungan sunyi, bukan doktrin keagamaan . Di dunia ini tidak ada salahnya mengejar apa yang kita mau. Karier, kekayaan, pencapaian, bahkan orang-orang yang kita kasihi. Semua itu memang untuk diraih, dimiliki, dipamerkan, dibanggakan. Namun, ada hari-hari aku bahagia. Ada hari aku optimis. Ada pula hari aku bingung dengan arah hidup.  Namun setelah semua itu, aku sadar: hampir tidak pernah ada hari di mana aku benar-benar takut akan mati. Padahal sesekali, rasa takut itu muncul. Tentang apa yang terjadi setelahnya. Tentang tanah, langit, ruang yang tak terlihat. Tentang hidup setelah mati yang dulu sering diceritakan waktu kecil, ketika berangkat TPQ setiap sore. Tentang takdir yang tidak bisa kulawan—dan bagaimana melawannya pun aku tak punya gambaran. Mungkinkah aku suatu hari berkata,...

Nobody warned me that 23 will be this lonely

When I was younger, I imagined my twenties would be filled with adventure, spontaneous trips, long conversations under city lights, and people who would always stay. I thought I’d have it all figured out by now: my career, my relationships, my place in the world. I wasn’t completely wrong, but I wasn’t completely right either. Being 23 feels like standing on shattered ground, everything you’ve ever known begins to crack, and you have no choice but to move forward, even when you don’t know what’s waiting on the other side. No one warns you how confusing it feels when life quietly shifts. People start their own journeys; some move away, some get too busy, and some just fade from your story. Suddenly, the people who used to be a constant part of your days are just familiar names in your contact list. And you realize: it’s not because anyone stopped caring, it’s because everyone’s trying to figure out their own chaos too. At 23, loneliness feels like a quiet companion. It visits you on...

Tracy Huang - 哭砂 (Hanzi, Pinyin, and Translation) Lyrics

Tracy Huang - 哭砂 你是我最苦涩的等待 nǐ shì wǒ zuì kǔ sè de děng dài 让我欢喜又害怕未来 ràng wǒ huān xǐ yòu hài pà wèi lái 你最爱说你是一颗尘埃 nǐ zuì ài shuō nǐ shì yì kē chén āi 偶尔会恶作剧地飘进我眼里 ǒu ěr huì è zuò jù de piāo jìn wǒ yǎn lǐ 宁愿我哭泣,不让我爱你 níng yuàn wǒ kū qì, bú ràng wǒ ài nǐ 你就真的像尘埃消失在风里 nǐ jiù zhēn de xiàng chén āi xiāo shī zài fēng lǐ chorus: 你是我最痛苦的抉择 nǐ shì wǒ zuì tòng kǔ de jué zé 为何你从不放弃漂泊 wèi hé nǐ cóng bù fàng qì piāo bó 海对你是那么难分难舍 hǎi duì nǐ shì nà me nán fēn nán shě 你总是带回满口袋的砂给我 nǐ zǒng shì dài huí mǎn kǒu dài de shā gěi wǒ 难得来看我,却又离开我 nán dé lái kàn wǒ, què yòu lí kāi wǒ 让那手中泄落的砂像泪水流 ràng nà shǒu zhōng xiè luò de shā xiàng lèi shuǐ liú 风吹来的砂落在悲伤的眼里 fēng chuī lái de shā luò zài bēi shāng de yǎn lǐ 谁都看出我在等你 shuí dōu kàn chū wǒ zài děng nǐ 风吹来的砂堆积在心里 fēng chuī lái de shā duī jī zài xīn lǐ 是谁也擦不去的痕迹 shì shuí yě cā bú qù de hén jì 风吹来的砂穿过所有的记忆 fēng chuī lái de shā chuān guò suǒ yǒu de jì yì 谁都知道我在想你 shuí dōu zhī dào wǒ zài xiǎng nǐ 风吹来的砂冥冥在哭泣 fēng chuī lái de shā m...

Belajar cukup, belajar bahagia

Dulu, aku sering merasa minder. Melihat orang-orang punya gawai terbaru, baju, sepatu, dan tas bermerek, ikut tren tanpa ragu. Sementara aku hanya punya satu tas, satu sepatu, satu gaya yang itu-itu saja. Rasanya seperti ketinggalan, seperti tidak cukup keren untuk dianggap. Tapi seiring waktu, aku belajar. Mencari uang sendiri sejak SMK membuatku sadar: uang itu tidak datang dengan mudah.  Setiap lembar yang aku hasilkan punya cerita, punya lelah, dan karena itu aku tidak bisa membelanjakannya sembarangan—aku tidak ingin kalap hanya karena merasa harus terlihat seperti orang lain. Kini, aku hidup dengan prinsip sederhana: “You only need one.” Satu sepatu yang nyaman, satu tas yang awet, satu gaya yang benar-benar aku suka. Aku tidak lagi takut ketinggalan tren.  Justru aku bahagia—karena barang-barangku aku sayangi, aku rawat, dan aku hargai. Uangku sekarang tidak habis untuk membeli hal-hal yang cepat bosan. Aku menggunakannya untuk membeli buku fiksi non fiksi yang aku suka...

Tentang Buku "Entrok" dan Marni: Perempuan, Mimpi Kecil, dan Luka Besar

Image
Entrok, entrok, dan entrok. Kalau ada orang yang bertanya kepadaku, novel Indonesia dengan latar tahun 60-an terbaik versiku, akan aku jawab "Entrok-nya Mba Okky".  Sebuah kisah yang mengguncang, menghantam kesadaran, dan meninggalkan luka yang tidak segera sembuh. Novel  Entrok  (2010) adalah debut dari Okky Madasari, yang kemudian dikenal sebagai penulis sastra sosial-politik. Buku ini membuka jalan bagi tema-tema besar seperti kebebasan, kekuasaan, dan identitas dalam karya-karya selanjutnya. Salah satu kutipan favoritku di buku ini: Kutipan ini muncul di awal novel, dan awalnya kukira ini adalah kalimat romantis antara pria dan wanita. Ternyata aku salah besar — dan aku baru menyadarinya setelah menyelesaikan cerita. Okky Madasari sangat lihai dalam meletakkan latar waktu di novelnya. Kutipan di atas adalah di "masa sekarang" dan cerita di lanjut dengan sudut pandang Marni di masa lalu . Seorang wanita Jawa miskin dan buta huruf yang hanya tinggal dengan ibunya ...