The only constant in life is change.
— Aku tumbuh dengan mempercayai bahwa jika aku ingin sukses, hidup harus menderita terlebih dahulu. Bahwa untuk sampai ke puncak, hidup harus bersakit-sakit dahulu. Didikan waktu dan keadaan membuatku terbiasa dengan gemuruh, sembunyi, dan tidak pernah merasa cukup, sebuah ritme hidup yang menuntutku untuk selalu ambisius dan tak boleh ada celah untuk salah. Seiring waktu aku sadar, keyakinan itu tidak sepenuhnya salah, namun tidak juga sepenuhnya benar. Kerasnya tempaan, kasarnya didikan, dan gemuruh ekspektasi memang telah menjadikanku setegar dan semandiri ini. Tempaan ini yang membawaku menembus batas, memenangkan persaingan, dan berdiri di posisi yang kini aku syukuri. Aku—keras kepala, tidak mau salah, dan pragmatis. Aku melihat dunia dengan keyakinan yang kubawa sejak kecil, bahwa hidup itu menderita, hidup itu tidak boleh bersantai, hidup itu terburu-buru, dan aku, harus bisa menjalani "hidup" sesiap-siapnya. Ini menciptakan paradoks aneh dalam hidupku, bahwa ketika m...