The only constant in life is change.

Aku tumbuh dengan mempercayai bahwa jika aku ingin sukses, hidup harus menderita terlebih dahulu. Bahwa untuk sampai ke puncak, hidup harus bersakit-sakit dahulu. Didikan waktu dan keadaan membuatku terbiasa dengan gemuruh, sembunyi, dan tidak pernah merasa cukup, sebuah ritme hidup yang menuntutku untuk selalu ambisius dan tak boleh ada celah untuk salah.

Seiring waktu aku sadar, keyakinan itu tidak sepenuhnya salah, namun tidak juga sepenuhnya benar.

Kerasnya tempaan, kasarnya didikan, dan gemuruh ekspektasi memang telah menjadikanku setegar dan semandiri ini. Tempaan ini yang membawaku menembus batas, memenangkan persaingan, dan berdiri di posisi yang kini aku syukuri.

Aku—keras kepala, tidak mau salah, dan pragmatis. Aku melihat dunia dengan keyakinan yang kubawa sejak kecil, bahwa hidup itu menderita, hidup itu tidak boleh bersantai, hidup itu terburu-buru, dan aku, harus bisa menjalani "hidup" sesiap-siapnya. Ini menciptakan paradoks aneh dalam hidupku, bahwa ketika melihat orang lain mendapatkan kemudahan dan rasa aman untuk mencapai keinginannya, aku marah dengan diriku sendiri.

Lantas aku pun mulai untuk jujur, pada diriku. Aku pun menyadari bahwa ia hanyalah Aku kecil yang mengharapkan sedikit rasa aman itu untuk mencapai apa yang aku impikan. Aku kecil yang iri, yang ingin diberikan jaring pengaman saat jatuh, yang ingin diberi back-up plan atas keinginan-keinginan yang aku gambarkan sejak kecil, serta yang ingin dikasihi tanpa hardik.

Pada akhirnya aku belajar bahwa hidup tidak harus selalu berupa medan perang. Aku tidak perlu terus-menerus merasa sakit hanya untuk membuktikan bahwa aku mampu. Dan keberhasilan orang lain tidak akan sedikitpun mengambil porsi rezekiku yang sudah disepakati Tuhan.

Menjelang babak baru dalam hidupku, aku ingin belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tak boleh merasa tenang, dan menjadi sukses tak berarti harus selalu merasa terancam oleh kemudahan yang dimiliki orang lain.

Aku belajar mencintai, menerima, melihat lebih besar, semua hal yang terjadi di dalam hidupku, tentang orang-orang yang kutemui, tentang bentuk perjalanan lain. Aku sedang belajar memeluk sosok kecil di dalam diriku. Sosok yang dulu harus berlari sangat kencang hanya untuk merasa aman. Kini, aku ingin membisikkannya:

 "Terima kasih sudah sangat tangguh! Kamu hebat! Sekarang, mari kita bangun masa depan yang tidak lagi digerakkan oleh rasa takut, tapi oleh kasih yang tulus."

Aku ingin menjadi sosok yang mendukung tanpa mendominasi, yang menyayangi tanpa syarat, dan yang hadir sebagai tempat berteduh paling nyaman. Aku mau memutus rantai gemuruh yang menyakitkan, dan menggantinya dengan kedamaian yang kasih.

Perjalanan ini mungkin tidak instan. Ada pola lama yang harus diurai pelan-pelan. Tapi aku percaya, keberanianku untuk jujur pada diri sendiri adalah langkah pertama untuk menjadi "rumah" yang hangat bagi orang-orang yang aku sayangi kelak, terlepas dengan siapa dan bagaimana kelak aku akan hidup.

Untuk hati yang terus belajar melunak. Untuk masa depan yang dibangun di atas ketulusan, semangat!


Comments

Popular posts from this blog

Tentang Buku "Entrok" dan Marni: Perempuan, Mimpi Kecil, dan Luka Besar

Very long poem

English Debate Cuman Lomba Bacot??