Buku Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi mengisahkan perjalanan hidup Firdaus, seorang perempuan yang mengalami penindasan tanpa henti dalam masyarakat patriarkal. Firdaus, yang sejak kecil dihancurkan oleh lingkungan sekitarnya, terpaksa menjalani hidup yang penuh dengan kekerasan dan penderitaan. Namun, buku ini bukan hanya sekadar cerita tentang kekejaman, melainkan juga tentang keberanian Firdaus untuk melawan dan menegaskan keberadaan dirinya meski harus membayar harga yang sangat mahal.
Salah satu kutipan yang menggambarkan kondisi ini adalah:
Source: Pinterest
(saya tidak memiliki tangkapan layar versi bahasa indonesia, karena iPusnas tidak bisa di screenshot)
Kurang lebih artinya:
di suatu momen dia (suamiku) memukulku dengan sepatunya. Wajah dan badanku menjadi lebam dan luka. Jadi aku meninggalkan rumah(nya) dan pergi ke (rumah) pamanku. Tetapi paman bilang kalau semua suami memukul istrinya, dan istri pamanku menambahkan kalau dia (juga) dipukuli oleh paman. Ia pernah bilang kalau pamanku adalah seorang syekh yang terhormat, sangat baik tuturnya saat mengajar agama, dan dia, oleh karena itu, tidak mungkin memukuli istrinya. Istrinya menjawab bahwa adalah pria yang pandai dalam agama itu yang memukuli istrinya. Doktrin dari agama yang memperbolekan hukuman itu.
Sangat gila bukan?
Kutipan ini menggambarkan betapa dalamnya penindasan yang dialami Firdaus, di mana bahkan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan—keluarga dan agama—termasuk dalam pelaku kekerasan. Hal ini menambah kesedihan dan keterkejutan yang saya rasakan saat membaca kisah Firdaus, seorang perempuan biasa yang menghadapi musibah bertubi-tubi dalam hidupnya.
Firdaus kecil tinggal di Mesir pada abad itu, ia gadis kecil periang, berteman, dan membantu orang tuanya. Firdaus kecil menyayangi pamanya sebagai seorang pemberi yang penuh kasih sayang. Adalah pamanya juga yang melecehkan Firdaus kecil. Firdaus, bahkan tidak tau apa itu dilecehkan.
Dengan beranjaknya usia, Firdaus semakin terjerat dalam penderitaan. Setelah kehilangan orang tuanya, ia dibawa oleh pamannya ke kota, namun malah menjadi korban pelecehan berulang. Lalu, dalam kehidupan pernikahannya, ia kembali menghadapi kekerasan dari suami tua yang tidak memberikan kasih sayang apa pun—hanya penderitaan yang tiada henti.
Sebuah quotes yang menarik di buku ini:
Perkawinan adalah lembaga yang dibangun atas penderitaan paling kejam untuk kaum wanita
- Firdaus
Firdaus mengalami penindasan yang tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis. Ia akhirnya terjerumus ke dalam kehidupan sebagai pelacur, sebuah profesi yang sebenarnya menjadi cara Firdaus untuk menegaskan nilai dirinya yang telah lama direndahkan. Di sinilah saya merasa tersentuh dan prihatin, karena Firdaus menunjukkan keberanian yang luar biasa untuk melawan takdir yang kejam, meski dihadapkan pada penghinaan dan penghukuman.
Fakta bahwa buku ini adalah kisah nyata membuat saya sangat terpukul, sedih, dan merasa betapa hidup tidak adilnya kepada seorang wanita, yang bahkan bila ditarik kebelakang anda akan berkata "salah apa dia ya Tuhan?"
Hukuman mati yang diterimanya adalah akibat usahanya melindungi diri dari penindasan orang berkuasa
Buku ini membuat saya berpikir lebih dalam lagi. Bahwa bahkan di era sekarang ini, penindasan dan merendahkan perempuan masih lazim. Baik itu oknum dengan doktrin agama tertentu yang menyalahartikan sehingga akan semena-mena kepada istri-istri mereka.
Firdaus, gila, ya.
Tetapi ia berani, ia berani melawan. Ia dibunuh karena ia menyimpan rahasia bobrok dari negara itu. Betapa banyak orang berkuasa, orang beragama, yang sebenarnya juga melakukan dosa dan kehinaan, namun di sisi lain, mereka menghina dan merendahkan perempuan seperti Firdaus. Singkatnya, semua orang tidak mau Firdaus berbicara dan membuka rahasia busuk dari sebuah kepercayaan di negara itu.
Perempuan di Titik Nol adalah bacaan penting bagi mereka yang peduli dengan isu feminisme, patriarki, dan penindasan terhadap perempuan dalam masyarakat. Dengan alur yang mengharukan dan bahasa yang mudah dipahami, buku ini layak untuk dibaca dalam sekali duduk, meskipun menyisakan perasaan mendalam yang tidak akan mudah dilupakan.
Terima kasih.
Comments
Post a Comment