Hustle Culture, Burnout, dan Excuse-ku

Ayah bilang, "kalau masih muda, kerja terus aja nggak papa, selagi bisa, all out aja"

Ketika aku memutuskan untuk belajar multitasking, aku tidak pernah percaya pada diriku sendiri. Namun, sampai detik ini aku menulis blog, aku sedang multitasking.

Bukan, aku bukan akan meromantisasi budaya hustle. Tidak.

Namun, lebih kepada, bagaimana kita bisa membiasakan diri kita, dengan multitasking.

Aku, 20 tahun. 

Mahasiswa, guru freelance, volunteer organisasi nirlaba.

Bagi sebagian orang besar, mungkin apa yang aku lakukan sangatlah kecil dan sedikit.

Tapi bagiku tidak. Perjalanan hidupku dimulai dari saat aku memutuskan untuk mengambil tawaran mengajar kelompok belajar teman ibuku—bahasa Inggris.

Hingga disini, total 30+ anak pernah aku ajari dan didik, hingga tersisa 12 orang sampai sekarang. 

Ditengah kesibukanku menjadi seorang mahasiswa sambil bekerja, rasa burn out pastilah kualami.

Melihat teman-temanku menghabiskan akhir pekanya ketika aku harus bekerja hingga malam. 

Belum lagi ketika ada 1 atau 2 masalah baik dalam kuliah ataupun mengajar. Aku selalu runtuh.

Bagaimana aku bisa bercerita? Kepada siapa aku bisa bercerita? Ketika tidak banyak temanku mengalami apa yang aku alami, tidak ada yang mengerti.

Memang semua cerita diatas terdengar sangat klasik. Lalu munculah pernyataan, "kamu sendiri yang meletakkan dirimu disini pada tempat pertama, kamu bisa saja memilih untuk tidak mengambil tawaran itu dan hidup tenang-tenang saja sekarang"

Lalu munculah—penyesalan.

Terimakasih kepada ayah dan ibuku yang sudah mempercayai bahwa aku bisa dan aku makpu untuk menjadi apa yang aku mau.

Kalau bukan karena ada sebuah mimpi besar yang ingin kucapai, dan orang-orang terdekatku yabg ingin aku bahagiakan. Mungkin benar saja pernyataan itu, bahwa seharusnya aku tidak mengambil tawaran mengajar itu.

Terimakasih google calendar dan google keep yang membantu ku mengatur pekerjaanku. 

Sebuah excuse ku untuk hustling, adalah keinginanku untuk mencapai mimpi yang besar. Tak perlu patah semangat.

Cinta
-nabiilah

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Buku "Entrok" dan Marni: Perempuan, Mimpi Kecil, dan Luka Besar

Very long poem

English Debate Cuman Lomba Bacot??